TANTANGAN DAKWAH NABI ﷺ
Menceritakan Sejarah Dakwah Nabi Muhammad ﷺ
Setelah Nabi SAW dan para sahabat melakukan aktivitas
tafa’ul tam, yang ditandai thawaf Nabi SAW dan para sahabat mengelilingi
Ka’bah, setelah masuk Islamnya orang-orang kuat di kalangan kafir Quraisy,
seperti Hamzah bin ‘Abdul Muthallib dan ‘Umar bin al-Khatthab. Diikuti dengan
aktivitas shira’ fikri [perang pemikiran], kifah siyasi [perlawanan politik],
tabanni mashalih ummat [mengadopsi kemaslahatan umat] dan kasyf al-khuthath
[membongkar makar jahat].
Maka, kaum kafir Quraisy memahami benar, bahwa dakwah Nabi
Muhammad SAW adalah dakwah pemikiran, yang ingin mengubah pemikiran mereka yang
salah. Tapi, mereka juga sadar, bahwa dakwah Nabi SAW juga merupakan dakwah
politik, yang akan bisa mengubah pandangan hidup, sikap dan peradaban mereka.
Mereka paham, jika ini berhasil, maka kaum mereka akan meninggalkan mereka, dan
mengikuti Nabi Muhammad SAW dengan Islam yang diembannya.
Karena itu, mereka mulai menyusun rencana untuk membendung
pengaruh dakwah Nabi SAW Mula-mula mereka lawan dengan pemikiran, dengan
menyerang ajaran Islam, yang mereka sebut sebagai “pemecah belah” kaumnya. Nabi
SAW mereka sebut sebagai “tukang sihir”, “pembohong” [QS Shad: 4], “majnun” [QS
at-Thur: 29] dan “pemimpi” yang menyampaikan dongeng orang-orang dulu [asathir
awwalin] [QS al-Muthaffifin: 13]. Namun, serangan secara pemikiran ini tidak
bisa mengalahkan Islam, dan para pengembannya.
Mereka pun mulai menggunakan cara kedua, menganiaya Nabi SAW
dan para pengemban dakwah. Bilal bin Rabah ra, yang ketika itu masih berstatus
budak, ditindih dengan batu, dijemur di bawah terik matahari Makkah yang luar
biasa panasnya. Keluarga ‘Amar bin Yasir, mulai dari Yasir, Sumayyah dan ‘Amar,
disiksa dengan penyiksaan yang luar biasa. ‘Amar bin Yasir pun akhirnya
terpaksa menyatakan ucapan yang mengikuti kehendak mereka, meski bertolak
belakang dengan keyakinannya.
Peristiwa ini pun diabadikan dalam Alquran, “Barangsiapa
yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman
(dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” [QS
an-Nahl: 106]. Setelah peristiwa itu, ‘Amar menghadap Nabi SAW, menceritakan
apa yang dialami, dan dilakukannya, dengan nada bersalah. Tetapi, Nabi SAW
menyatakan, “Jika mereka memintamu untuk mengulanginya lagi, maka ulangilah!”
Bahkan, ibunda ‘Amar, yaitu Sumayyah, disiksa dengan sangat
biadab hingga gugur, sebagai syahidah pertama. Nabi SAW sempat menemuinya,
seraya menyatakan, “Wahai keluarga Yasir, bersabarlah. Sesungguhnya janji Allah
untuk kalian adalah surga.” Sumayyah yang telah mengerang kesakitan itu pun
menjawab dengan penuh keyakinan, “Sungguh, surga itu telah tampak di depan
mataku, wahai Rasulullah.” Begitulah
para sahabat Nabi SAW mengalami penyiksaan demi penyiksaan yang luar biasa,
tetapi mereka tetap bersabar.
Tak hanya mereka yang mengalami penyiksaan, Nabi SAW juga
sama. Adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, orang kafir Quraisy yang begitu membenci
Rasulullah SAW Ketika Nabi SAW sedang berada di dekat Ka’bah, baginda SAW
dipukul tengkuknya oleh ‘Uqbah hingga pingsan. Tak hanya sampai di situ,
setelah pingsan pun, baginda SAW masih disiram dengan pasir. Semua itu
disaksikan oleh putri baginda SAW yang masih belia, Fatimah radhiya-Llahu
‘anha. Fatimah pun menangis, saat melihat ayahandanya yang mulia itu
diperlakukan begitu rupa.
Namun, semuanya itu tidak bisa menghentikan dakwah Nabi SAW
dan para sahabat. Pada saat yang sama, sebagai seorang pemimpin yang bijak,
Nabi SAW tidak ingin membiarkan para sahabatnya terus-menerus menghadapi ujian
keimanan yang begitu rupa. Nabi SAW pun titahkan mereka untuk mencari
perlindungan dakwah ke luar. Mereka berangkat ke Habasyah [Ethiopia], Afrika,
untuk mendapatkan perlindungan dari Raja Najasyi.
Ternyata, kaum kafir Quraisy pun tidak membiarkan mereka
begitu saja. Mereka pun mengirim ‘Amru bin al-‘Ash untuk menemui Raja Najasyi,
agar tidak menerima kaum Muslim, dan mendeportasi mereka. Untuk meyakinkan Raja
Najasyi, maka ‘Amru bin al-‘Ash pun menyampaikan fitnah dan tuduhan terhadap
mereka, sebagaimana yang mereka tuduhkan kepada Nabi SAW dan risalahnya
sebelumnya. Tetapi, akhirnya Allah SWT merontokkan tuduhan mereka. ‘Amru bin
al-‘Ash pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa.
Gagal dengan upayanya di luar negeri, dan upaya penyiksaan
yang mereka lakukan di Makkah, kaum kafir Quraisy pun menggunakan langkah
berikutnya, dengan harapan bisa mengisolasi Nabi SAW, para sahabat dan
dakwahnya, agar tidak mendapatkan dukungan dari kaumnya. Dengan zalim, mereka
melakukan pemboikotan kepada Nabi SAW, para sahabat, Bani Hasyim dan Bani
‘Abdul Muthallib. Mereka diboikot di lembah Abu Thalib selama tiga tahun. Tanpa
akses makanan, pakaian, diisolasi sehingga tidak boleh berinteraksi dengan suku
dan kabilah lain. Tetapi, ternyata semua upaya zalim ini tidak mampu
merontokkan dukungan Bani Hasyim dan ‘Abdul Muthallib terhadap dakwah Nabi SAW.
Justru sebaliknya, karena peristiwa ini, Nabi SAW, para sahabat
dan dakwahnya mendapatkan simpati dan dukungan yang meluas. Di antara kaum
kafir Quraisy pun ada yang dengan sembunyi-sembunyi mengirimkan logistik kepada
Nabi, para sahabat, Bani Hasyim dan Bani ‘Abdul Muthallib yang sedang diboikot.
Para pemuda, yang dipimpin oleh Muth’im bin ‘Adi, kemudian merasa iba, setelah
menyaksikan penderitaan yang dialami oleh Nabi, para sahabat, juga Bani Hasyim
dan Bani ‘Abdul Muthallib yang diboikot. Karena minimnya akses makanan, dan
lain-lain, sehingga ada yang harus merebus tulang, makan daun atau rerumputan.
Itulah yang mendorong mereka untuk merobek dokumen pemboikotan yang ditempelkan
di Ka’bah, yang ternyata hampir habis, karena dimakan rayap.
Pendek kata, sejak saat itu, kaum Muslim pun bebas dari
pemboikotan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy terhadap mereka. Namun,
tidak berarti derita Nabi SAW pun berakhir. Karena setelah itu, Allah SWT
memanggil orang-orang yang selama melindungi dakwah Nabi SAW Khadijah
radhiya-Llahu ‘anha dipanggil menghadap Allah, setelah menemani dakwah Nabi
selama 15 tahun, dan setelah 25 tahun menjadi istri baginda SAW. Belum pulih
kesedihannya, Allah memanggil paman Nabi SAW Abu Thalib, yang sebelumnya telah
memberikan perlindungan kepada Nabi SAW.
Karena itu, setelah lepas dari pemboikotan, khususnya
setelah wafatnya Khadijah bin Khuwailid radhiya-Llahu ‘anha, dan Abu Thalib,
ujian dakwah tak kunjung reda. Malah, nyaris semakin meningkat, karena orang
yang selama ini melindungi dakwah Nabi SAW telah tiada. Maka, setelah berbagai
upaya untuk menghentikan dakwah ini gagal, pada saat yang sama, Nabi SAW
dianggap tidak lagi mempunyai pelindung yang mereka hormati, maka mereka mulai
frustasi. Pada saat itulah, muncul ide dan rencana untuk menghabisi nyawa Nabi
Muhammad SAW.
Komentar
Posting Komentar